Weekend kemaren, bertepatan dengan ulang tahun Bandung yang ke 200, gue pergi kesana. Seperti biasa, jalanan macet, apalagi diperparah dengan hujan lebat yang turun beberapa hari belakangan.

Perjalanan yang biasanya 2 jam, kali ini gue tempuh hampir 4 jam.

Dan seperti biasa, dalam kondisi weekend seperti ini, di twitter, muncul beberapa tweet keluhan dari teman-teman gue yang orang Bandung, yang intinya sama seperti keluhan yang sama muncul di twitter oleh orang Jakarta ketika senin pagi.

Tweet itu banyak berisi keluhan mengenai kondisi Bandung yang mereka benci jika weekend tiba.

Suasana yang ramai, jalanan yang macet, kendaraan yang penuh, seakan menjadi racun bagi kehidupan warga Bandung yang cenderung lebih santai dan tenang.

Mobil-mobil berplat B yang lalu lalang di hampir semua sudut kota Bandung, membuat teman-teman gue yang orang Bandung seakan merasa kota yang mereka tinggali dari kecil sudah mulai berubah.

Dulu gue juga merasa seperti itu, gue benci ketika weekend tiba, gue ga suka pergi-pergi di hari Sabtu Minggu, gue ga nyaman dengan kondisi yang ramai yang tidak seperti biasanya.

Tapi lama-lama, sewaktu gue pindah dan tinggal di Jakarta, gue sadar kalo selama ini gue bersifat subyektif. Gue hanya melihat hal itu dari kacamata gue.

Ngga dari kacamata orang lain. Terutama orang Jakarta yang ke Bandung itu sendiri.

Gue rasa, warga kota Bandung sebaiknya bisa bersabar dengan kedatangan temporary orang Jakarta yang datang cuma seminggu sekali.

Kemacetan-kemacetan itu hanya dirasakan 2 hari dalam seminggu. Semua ketidaknyamanan itu hanya sementara. Jadi sedikit bersabar, gue rasa akan sangat baik.

Bayangkan dengan Jakarta, yang hampir merasakan itu setiap hari. Setiap hari Jakarta dipenuhi warga pendatang, setiap hari Jakarta dijejali oleh manusia yang bukan warganya.

Liat aja, sewaktu weekend atau libur hari besar, Jakarta akan sangat lengang jika cuma didiami oleh warga aslinya.

Gue rasa, warga Bandung harus punya toleransi lebih masalah ini.

Mungkin ini adalah postingan self defense dari gue, karena gue adalah ‘warga jakarta’ yang mengotori Bandung tiap akhir minggunya.hehe..

Gue rasa, akan lebih bijak bagi kita semua jika kita ngga hanya mengumpat-ngumpat di twitter, mengeluh di status facebook, atau menyalahkan orang lain atas ketidaknyamanan yang kita terima, tapi juga membantu agar bisa menjadi tuan rumah yang baik bagi para ‘tamu’ Jakarta yang berkunjung seminggu sekali itu.

Toh, para tamu ini menghabiskan uang yang tidak sedikit di Bandung, Milyaran rupiah uang berputar setiap weekend nya di jalan Dago dan sekitarnya. Simbiosis mutualisme kan?

Warga Bandung sebaiknya membantu pemerintah kota agar bisa melayani tamu-tamunya itu. Kota Bandung masih perlu berdandan dalam menyambut tamunya.

Liat aja jalanan yang semakin hancur, lampu jalan yang sangat minim, drainase yang sangat buruk. Memperparah wajah Bandung saat ini.

Ambil contoh jalan Dipati Ukur Bandung, jalan protokol didepan ‘muka’ gedung sate ini keriting kayak bulu dada, mengendara mobil di jalan ini, ibarat offroad ditengah kota.

Jika kondisi hujan lebat, maka anda akan lebih berasa seperti naek perahu ketimbang naik mobil.

Aliran air dengan ketinggian 5 sampai 10 cm mengalir turun di jalanan yang perlahan mengikis aspal. Gue yakin, dengan jalan yang mulus, pasti akan mengurangi kemacetan yang ada setiap weekendnya.

Jika anda berani, coba lewat di jalan cilaki deket SMA 20 di malam hari, kondisinya seperti berada di salah satu kabupaten di Aceh Besar.

Gelap banget.

FYI, di jalan ini gue pernah dirampok ditengah malam.

Jika anda ingin mencalonkan diri jadi walikota Bandung, jadikan perbaikan jalanan dan pengadaan lampu jalan sebagai program utama anda, ga usah ribet-ribet pengentasan kemiskinan dan sebagainya, cari yang gampang-gampang aja (ya, lagi-lagi ini sarkasme).

Warga Bandung mungkin sebaiknya lebih proaktif dalam mengawasi pemerintahnya, aparatur negaranya, walikotanya. Jadi ngga kerja walikota ngga ‘cuma’ ngomongin persib aja.

Udahlah, lepaskan persib dari kepentingan-kepentingan politis. Ada kepentingan-kepentingan lain yang gue liat didalam persib.

Seorang temen bobotoh pernah bilang ke gue seperti ini.

“ ta, kalo ada orang yang tiba-tiba peduli ama persib, pasti ada maksudnya, ntah mau jadi sekda kek, jadi walikota kek, atau jadi apapun” kata temen gue.

Waktu itu, gue cuma ngangguk-ngangguk mendengarkan.

Untungnya persib sekarang udah bisa lepas dari APBD, sehingga nanti bisa berdiri sendiri sebagai institusi independen tanpa harus ditunggangi sebagai kendaraan politik oleh pihak manapun.

Disisi lain, mall-mall dan pusat perbelanjaan mulai tumbuh tak teratur di Bandung. Gue bukan orang yang ngerti masalah teknik dan tata kota, tapi tolong lihat pembangunan mall baru di balubur yang bisa kita lihat ketika kita melintas jalan layang pasupati. Pas banget di sebelah jalan layang.

Dimata gue, letak mall seperti ini salah. Koreksi gue kalo salah.

Tapi kalo emang gue bener, gue ga tau deh gimana ijin pembangunannya bisa keluar.

Gede kali ya setoran keatasnya? Who knows?!

Semoga ga ada mall salah tempat kayak gini lagi kedepannya.

Inilah poin dari postingan gue kali ini. Gue ingin membangun public awareness bagi warga Bandung dan teman-teman gue di kota yang lain yang juga baca tulisan ini.

Masih banyak hal-hal yang harus kita perhatikan daripada sekedar mengeluh kesal setiap minggunya.

Bandung adalah kota yang sangat berkesan buat gue, gue akan selalu kembali ke kota ini. Di kota ini gue menghabiskan 4 tahun yang sangat indah.

Belajar hidup sendiri, belajar menjadi dewasa, belajar jatuh cinta :), dan belajar menjadi manusia seutuhnya.

Gue ga mau kota Bandung berubah menjadi lebih buruk dan mundur kebelakang, gue pengen Bandung berubah menjadi lebih baik.

Bandung yang sejuk, bersih, penuh dengan senyuman neng-neng geulis (hehe), dan ramah bagi pendatang.

Sehingga nanti suatu saat kita bisa bilang,

Bandungku, Bandungmu, Bandung kita semua.

Selamat ulang tahun ke 200 Bandung, jangan menjadi menyebalkan seperti saudara tuamu.

.

.

With Love..