Gue sedang menikmati buka puasa disebuah warung baso ketika handphone gue berbunyi.

“Ayah”

Begitu nama singkat yang muncul di layar. Sedikit heran, gue menatap layar handphone. Ayah gue adalah orang yang jarang nelfon. Irit bicara. Jadi kejadian kayak gini, menjadi barang mewah buat gue.

“Halo assalamualaikum yah..” Biasa. Di depan ayah harus sopan.

“Abang dimana nak? Dompet ayah ilang nih. Ayah udah di Cengkareng. Duit di kantong tinggal 11 ribu. Abang bisa kesini?” kata ayah dengan suara agak panik.

“Iya yah, abang langsung kesana.” kata gue singkat sambil langsung mematikan handphone.

Ya, itulah ayah gue. Orangnya irit bicara. Jarang ngirim sms. Bahkan ga pernah ngabarin kalo mau ke pergi Jakarta. Tiba-tiba datang, tiba-tiba pergi. Padahal ada gue yang tinggal di Jakarta.

“Ga mau ngerepotin anak” katanya setiap kali gue tanya.

Dan kini, yang gue tau, ayah ada di bandara Cengkareng. Pukul 9 malam. Baru nyampe ke Jakarta dengan flight terakhir dari Aceh. Dan kehilangan semua uang dan kartu identitasnya.

Tanpa pikir panjang, langsung gue tinggalkan makanan gue. Lari ganti baju ke kosan. Lalu kemudian nyari taksi. Cara tercepat untuk nyampe bandara malam ini.

“Agak cepat pak, langsung masuk tol aja.” instruksi gue kepada supir taksi.

Akibat merantau dari jaman kuliah, dan selalu jauh dari rumah, gue termasuk jarang ketemu dengan keluarga gue. Bahkan untuk anggota-anggota keluarga utama seperti ayah, bunda atau adek-adek gue yang serenceng itu.

Karena frekuensi ketemunya yang kadang cuma setahun sekali, image yang menempel di kepala gue adalah gambaran tahun lalu pas ketemu mereka.

Image yang gue inget pada saat terakhir kali ketemu mereka. Makanya gue kaget banget pas pulang lebaran tahun lalu. Ngeliat adek gue yang SMP.

Yang terakhir kali gue inget masih lucu menggemaskan, sekarang suaranya udah kayak suara om-om hidung belang. Suaranya pecah menjelang puber.

“Ini bukan Gery nih. Ini om-om yang memakan Gery!”

“Keluarin adek saya om, muntahin dia om. Balikin adek saya om” kata gue waktu itu.

Hal ini berlaku juga buat ayah gue.

Sosok ayah diingatan gue adalah sosok yang kuat, masih muda, masih bertenaga. I know I can count on him in everything.

Dia adalah sosok yang bisa diandalkan dalam kondisi apapun.

Tapi malam itu, ketika gue ketemu di bandara. Menyalami tangannya yang mulai keriput, melihat uban di kepalanya yang semakin banyak, gue sadar. Ayah telah bertambah tua.

Panik dan berkeringat. Karena terjebak di bandara, dengan hanya memegang sebelas ribu rupiah di kantungnya. Tanpa ada seorang pun yang menemaninya.

Sosok orang tua, yang mungkin tidak sekuat dulu. Sosok yang tampak tak berdaya. Tampak lelah, mungkin akibat perjalanan nya. Mungkin juga karena usianya.

Membuat gue sadar, ayah sudah tua. Sudah tidak sekuat dulu.

We always consider our dads are superheroes. But at some point, even superheroes get old.

And now my dad is getting older. Seeing your dad gets older, make you realize that life doesn’t wait. Ready or not, life happens.

He teach you math. He teach you ABC, or patiently teach you alif, ba, ta, tsa,

He teach you how to fight, he teach you how to flirt, he teach you how to handle things. He teach you how to become a man.

The one who tied your shoelace when you were kid, now needs your help. Life happens.

It’s time for me to help him. That is the least thing that I can do.

Now, I know exactly how I’m gonna raise my kids…just like the way my father did.

Thank you dad. Thank you my old man.