Author Archive

Mencoba Normal

Well, sepertinya sudah menjadi tradisi buat gue untuk menulis sebuah postingan tahun baru di blog ini. Mulai dari tahun 2011 hingga sekarang, gue nggak pernah absen untuk menulis postingan sejenis.

Tujuannya sih nggak aneh-aneh, cuma sebagai reminder buat gue untuk hal-hal yang sudah gue lakukan, dan apa yang akan gue lakukan tahun ini.

Awalnya gue bingung untuk nulis apa di postingan ini. As you all know, 2016 adalah tahun terburuk buat gue. Gue hampir mati karena GBS.

Lumpuh setengah badan, menghabiskan beberapa bulan untuk kencing dan beol di atas kasur, kaki yang mengecil seperti kaki belalang dan kehilangan semangat hidup.

Di tahun 2017, gue sedikit lebih baik. Gue kembali masuk kantor, ketergantungan ke kursi roda mulai berkurang, dan gue mulai membiasakan diri dengan kondisi gue… Lanjut ta.. | 4 Comments

Bunda dan Internet

Gue punya Bunda yang sangat update.

Jika dibandingkan dengan orang tua teman-teman gue yang lain, sepertinya cuma gue yang memiliki Ibu yang paling melek media sosial.

Mulai dari Facebook, Instagram, hingga Smule dia punya.

Aplikasi terakhir bahkan baru di-install-nya baru-baru ini.

“Bosen Bunda di rumah. Kan lumayan bisa karaokean sendiri” pungkasnya.

Gue hanya menghela napas panjang sebagai bentuk rasa pasrah melihat Bunda yang sangat eksis di dunia maya.

Awalnya nggak kayak gini. Awalnya bunda hanya punya handphone jadul yang cuma bisa dipakai untuk telfon dan smsan.

“Nggak ngerti Bunda cara makenya.” setiap kali melihat gue menggeser jari-jari di layar smartphone gue.

***… Lanjut ta.. | 3 Comments

Twitvestor

Semuanya berawal dari kegelisahan.

Kegelisahan gue melihat tingkat literasi finansial di Indonesia yang masih sangat rendah. Kegelisahan melihat maraknya penipuan investasi bodong yang selama ini terjadi. Kegelisahan melihat banyak sekali investasi berkedok sedekah yang akhirnya berujung tuntutan hukum.

Semua kegelisahan ini akhirnya cuma bisa menumpuk menjadi satu dan gue pendam sendiri dalam hati. Kadang kegelisahan ini bisa gue luapkan di linimasa Twitter, tapi lama kelamaan gue mulai merasa hal itu nggak cukup.

Gue harus bikin sesuatu!

Melihat dan menimbang kondisi kesehatan gue yang makin ke sini makin kuat, akhirnya gue pun memberanikan diri untuk melempar sebuah pertanyaan sederhana di Twitter.

“Kalau gue bikin sharing session tentang saham untuk pemula, ada yang mau ikut nggak?”

Gue kira awalnya, pertanyaan ini hanya akan berakhir menjadi event

[Review] Jomblo Reboot

Whoaaaa.. udah lama juga gue nggak nulis blog. Postingan terakhir yang ini, gue tulis sekitar bulan Agustus, jadi hampir 3 bulan nggak ada tulisan baru.

Dan hiatus menulis kali ini harus berakhir demi sebuah review; Jomblo Reboot.

Sebelum gue tulis reviewnya, pertama-tama gue harus mengucapkan terima kasih ke Kang Adhit yang sudah mengundang gue untuk bisa nonton premiere Jomblo Reboot. Ucapan terima kasih ini juga sekalian berfungsi sebagai disclaimer terhadap review yang mungkin nggak sesuai harapan Kang Adhit. Dan untuk kalian penggemar para aktor di Jomblo Reboot, brace yourself. This might be brutal.

Agar lebih menjiwai tulisan ini, sebelumnya gue akan ngasih tau betapa dekatnya Jomblo dengan hidup gue. Kalau gak salah, novel Jomblo itu pertama kali terbit tahun 2003, dan diangkat jadi film sekitar tahun… Lanjut ta.. | 13 Comments

Cacat

Semalam, gue keluar untuk ngopi di sebuah kedai kopi di dekat rumah. Sebuah kegiatan yang sangat biasa, tapi menjadi sangat jarang gue lakukan sejak gue didiagnosa GBS tahun lalu.

Kondisi badan yang lemah, dan kaki yang belum sempurna membuat aktivitas di luar rumah seperti ini menjadi sangat berat. Gue harus bergantung kepada bantuan orang lain untuk proses mobilisasi.

Dan semalam, dengan menggunakan kursi roda, gue dan beberapa teman memutuskan untuk menghabiskan waktu di kedai kopi.

Seperti biasa, kondisi gue duduk di kursi roda dalam umur yang masih muda menyita perhatian orang-orang lain di sekitar gue. Gue bisa melihat beberapa pandangan kasihan yang berusaha gue abaikan.

Jujur, gue sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Sudah satu tahun belakangan, hal-hal ini terasa familiar buat gue.

Pada… Lanjut ta.. | 13 Comments

Minyak Babi

Beberapa waktu yang lalu, adek gue bertanya ke gue sepulang sekolah.

“Bang, keefsi digoreng pake minyak babi ya?”

“Hah? Kata siapa?”

“Kata guru di sekolah”

“Nggak ah kayaknya. Nggak mungkin pake minyak babi. Kalau iya, pasti udah heboh se-Indonesia.” kata gue.

Dan beberapa minggu yang lalu, gue juga nanya ke sepupu gue.

“Eh, di sini udah ada JCo belum sih?”

Sejak merantau gue memang kurang mengikuti perkembangan kampung halaman gue ini. Dan setelah 12 tahun merantau, baru kali ini gue menetap cukup lama di rumah. Biasanya gue cuma pulang beberapa hari untuk mudik.

“Udah kok! Tapi emangnya mau beli?” jawab sepupu gue.

“Emang nya kenapa? Lagi pengen makan donat nih.”

“Kan pake minyak babi tuh!”

Gue mengernyit heran. Kenapa… Lanjut ta.. | 14 Comments

Sakit itu tumbuh.

Waktu gue kecil dulu, entah karena punya orangtua yang males menenangkan anaknya atau gimana, gue selalu punya mantra untuk setiap kesakitan yang gue rasakan.

“Kalau sakit itu tumbuh” itu yang diajarkan Bunda.

Mantra ini bisa dipakai di segala kondisi, mulai dari nangis karena kaki kepentok meja hingga kegigit cabe waktu makan Indomie.

Serius.

“Huaaa, Bundaaaaa. Adek kegigit cabe.” kata gue merengek ke Bunda sekali waktu.

“Iya, gpp. Itu tandanya udah mau gede.”

Dan sejak itu, doktrin kuat-makan-cabe-adalah-syarat-untuk-cepat-gede masuk ke dalam otak gue.

Dan untuk seorang anak kecil, yang postur tubuhnya kayak anak kurang gizi, maka ingin cepat tumbuh besar adalah mimpi gue.

Dan sejak saat itu pula, gue suka makan makanan pedas. Rela menahan sensasi terbakar demi ingin tumbuh.

Waktu… Lanjut ta.. | 9 Comments

Dua Puluh Sembilan

Suasana kamar hari ini lebih sepi dari biasanya. PS4 yang baru gue beli, malam ini kehilangan daya tariknya.

Dengan sedikit bersusah payah, tangan kiri gue meraih pegangan kursi roda yang sengaja diletakkan di sebelah tempat tidur.

Napas gue sedikit tersengal ketika gue menarik badan untuk duduk. Kegiatan sesederhana bangkit dari tidur kini berubah menjadi lebih susah dari biasanya sejak gue lumpuh tahun lalu.

Kaki ternyata selama ini bertugas menjadi penyeimbang ketika kita ingin bangkit dari posisi tidur. Gue baru tau ini.

Meskipun sudah jauh lebih baik, kondisi gue belum kembali seperti semula. Penyembuhan gue memakan waktu sedikit lebih lama dari cerita GBS survivor lain yang pernah gue baca.

Tangan kanan gue meraih laptop yang dari tadi tergeletak di atas tempat tidur. Laptop gue agar… Lanjut ta.. | 31 Comments

Ambil positifnya aja.

Well, sejak gue sakit, banyak nasehat yang gue dapat dari orang-orang yang datang menjenguk.

“Diambil positifnya aja, Ta” adalah nasihat yang paling umum gue terima.

Sebenarnya agak susah sih mencari hal positif dari sebuah penyakit langka yang membuat lumpuh selama berbulan-bulan. Gue nggak terlalu suka dengan kegiatan mencari alasan ini. Menjadi hal yang sangat Indonesia sekali. Mencoba mencari hikmah di balik sebuah peristiwa.

Rumah dirampok tapi masih aja ngomong “Untung cuma barang yang ilang!”

Atau ketika kena tabrakan beruntun, ngomongnya “Untung cuma patah kaki!”

Maybe that’s why everything happens for a reason. Because we are always making excuses.

Tapi tampaknya mereka benar, kali ini mungkin gue harus mengambil positifnya. Biar nggak stress sendiri. Sedikit memutar otak, gue berusaha menuliskan hal-hal positif yang gue dapat… Lanjut ta.. | 11 Comments

Marah

Hari ini adalah bulan ke sembilan sejak gue didiagnosa GBS.

Buat gue pribadi, ini adalah periode paling lama gue sakit. Biasanya gue hanya kena demam, flu atau nggak enak badan aja. Penyakit-penyakit yang akan hilang dengan istirahat dalam 2-3 hari.

Selama sembilan bulan ke belakang, hari-hari gue diisi oleh latihan berjalan, tidur yang tidak nyenyak, kesulitan untuk buang air kecil/besar, dan level stress yang sangat tinggi.

Nggak banyak yang tau, penyakit ini jauh lebih menyerang sisi emosional daripada fisik penderitanya.

Semua kesakitan fisik mungkin akan lewat setelah 1-2 bulan pertama, dimana sesi-sesi MRI, puluhan jarum suntik menusuk kulit dan tulang belakang, setruman-setruman listrik untuk mencari impuls saraf, telah selesai.

Selanjutnya adalah penyakit emosionalnya.

Anger, frustration, sadness, hopeless, combined into one.

Bulan ke… Lanjut ta.. | 20 Comments