Waktu itu, gue dan seorang sahabat baik sedang ngopi di salah satu kedai kopi di Kemang. Di antara berisiknya lalu lalang kendaraan di luar jendela kaca, kami bertukar cerita. Kali ini, topik pembicaraan kami masih sama.

Wanita.

Dalam kondisi resah, dia sedang menceritakan situasi yang sedang dialaminya ke gue, bagaimana susahnya dia mengubah status yang awalnya ‘kasual’ berubah menjadi sesuatu yang lain terhadap seorang wanita yang sedang dia suka.

“Ya lo ajak keluar lah!” kata gue waktu itu.

“Udah. Tapi perginya selalu rame-rame ama yang lain.”

“Nggak pernah berdua?” tanya gue.

Dia cuma menggeleng.

“Sini, kirim chat ke dia sekarang. Ajak keluar minggu depan. Udah umur segini gak usah lah bersembunyi dibalik status pertemanan kalau emang suka ama cewek.”

“Tapi terlihat pengen gak?” dia khawatir.

“Ya lo emang pengen kan? Ngapain berpura-pura?”

“Iya juga sih..” dia menggaruk kepalanya yang gue yakin tidak sedang gatal.

“Kalau dia emang pengen, dia akan meng-iyakan, kalau nggak ya nggak. Dengan mengajaknya keluar berdua, lo udah menunjukkan niat lo ke mana. Dia pasti tau lah apa maksud lo. Kalau nggak kayak gini, lo nggak akan pernah tau. Terus aja terjebak dalam status teman.”

Dia tampak bingung.

“Attraction is simple thing, my friend. Whether it is there, or not.” tutup gue sambil menyeruput kopi yang mulai mendingin.

Omongan gue tampaknya mulai berhasil.

Dia lalu meraih handphone yang tergeletak di atas meja, tepat di sebelah gelas cappuchino-nya yang belum tersentuh dari tadi.

***

Beberapa minggu yang lalu, sebuah kabar yang mengejutkan kembali gue terima. Dia, yang pernah gue tulis di sini dan di sini, sudah single kembali.

Pertama kali gue dengar kabar ini, gue berpikir sejenak.

Haruskah gue ulang kembali semuanya?

I’ve been in this situation before. And now, it feels like a déjà vu.

Lagi, nyali gue nggak berpikir lama. Gue langsung meraih handphone yang dari tadi tergeletak di atas kasur.

I want to say ‘hi’ to her.

Pertukaran cerita mulai terjadi. Intensitas percakapan yang pernah ada, kini mulai terbangun kembali. Semuanya masih sama.

She’s smart, weird and funny at the same time. Now I know the reasons why I like her at the first place.

Gue memantapkan niat. I’ll take that second chance. But, there’s a problem.

Di satu sisi, I want to take it slow, considering her situation. I don’t want to rush things.

But in the other side, I don’t like to wait. I have been waiting for months, since Aberdeen.

Setiap kali kami berbicara, selalu saja ada keinginan untuk untuk mengajaknya keluar pergi berdua. Tapi situasinya sama seperti cerita teman gue tadi di awal.

We are casual. And I don’t like it.

Gue ingin mengubah sesuatu yang kasual ini menjadi hal lain. Kebingungan ini terus gue rasakan untuk beberapa minggu terakhir.

Gue nggak bisa membiarkan ini terjadi terlalu lama. I need to change something.

Di salah satu percakapan kami melalu Line beberapa hari yang lalu, gue mulai mengumpulkan niat itu.

Berulang kali gue mengetik pesan yang kira-kira mudah untuk dia terima. Kalimat itu gue gumamkan berkali-kali agar terdengar sederhana. Namun berulang kali juga, kalimat-kalimat hanya berujung di tombol ‘delete’ tanpa pernah terkirim.

Gue nggak berani. Gue nggak berani untuk menjalankan kata-kata gue sendiri. Cupu memang.

Memberikan saran memang terasa lebih mudah daripada menjalankannya.

Lama gue berpikir sambil mempertimbangkan semuanya. Jika dibiarkan, situasi ini akan berbahaya. Gue akan terjebak dalam zona yang tidak akan gue suka.

Handphone yang dari tadi gue pegang hanya gue ketuk-ketukan ke meja. Sebuah mantra sederhana melayang dalam kepala dan memberikan gue sebuah keyakinan yang hebat.

“Attraction is a simple thing. Whether it is there, or not.”

Sambil menarik napas panjang, jari gue mengetik cepat.

“Hey, you know what. I really want to ask you out. Gimana?”

Sent.

Dan sekarang kita liat ke mana cerita ini selanjutnya.