Ada satu fase dalam kehidupan gue yang ga pernah gue ceritain di blog ini sebelumnya.

Yaitu fase gue tinggal di asrama.

Tidak seperti mahasiswa pada umumnya, waktu kuliah gue memilih untuk ngga ngekos. Gue tinggal di asrama khusus mahasiswa Aceh yang ada di Bandung. Alasannya sederhana. Lebih murah.

Gue bela-belain tinggal sedikit agak jauh dari kampus. Ngga di kawasan kos-kosan deket kampus yang terlalu mainstream.

Asrama itu sendiri adalah rumah peninggalan Belanda waktu menjajah di Indonesia. Yang pada waktu Belanda angkat kaki dari Indonesia, rumah itu diduduki oleh pemuda Aceh dan dijadikan asrama mahasiswa hingga sekarang.

Kata senior gue sih ceritanya kayak gitu.

Bentuknya sendiri sama sekali engga mirip asrama pada umumnya. Lebih ke rumah tua yang sederhana di suatu komplek elit di Bandung Tengah.

Keamanannya terjamin, karena di berada dalam komplek perumahan yang nyaman dan tenang.

Berbeda jika tinggal di dekat kampus yang cenderung sempit dan ramai. Benar-benar suasana yang pas buat leha-leha.

Disebelahnya ada warung makan kecil tempat yang menjual makanan-makanan khas Aceh. Lumayan buat pengobat rasa rindu rumah ketika jauh di perantauan. Atas pertimbangan-pertimbangan inilah gue memutuskan untuk tinggal di asrama.

Kadang, beberapa warga Negara Belanda datang ke asrama, hanya untuk bertamu dan memotret isi rumah. Katanya, ini rumah kakek buyutnya waktu tinggal di Indonesia. Dan nenek atau orang tua mereka tinggal disini waktu kecil. Mungkin sekedar ingin membangkitkan memori masa kecil.

Entahlah. Gue juga ngga tau pasti. Yang jelas, rumah ini menyimpan banyak kenangan buat para penghuninya, termasuk gue.

Asrama ini ga cuma jadi tempat tinggal mahasiswa Aceh yang kuliah di Bandung, tapi juga jadi semacam tempat ngumpul atau markas paguyuban warga Aceh yang ada di Bandung. Dan kebetulan, ada warung kecil disebelah asrama yang menjadi tempat mereka ngumpul. Sekedar makan mie Aceh atau ngopi-ngopi.

Biaya tinggal di asrama murah banget jika dibandingkan dengan kos-kosan pada umumnya, kalo ga salah cuma sekitar 200rb/bulan sudah termasuk cuci dan internet.

Biaya patungan dari anak-anak yang tinggal di asrama. Kadang, pengurus asrama cukup kreatif untuk nyari dana tambahan ke pemda Aceh. Bikin proposal dana untuk aktivitas keseharian asrama. Gue tinggal dari mulai jadi anak baru, ampe bisa jadi ketua di asrama itu.

Tinggal di asrama, merupakan pengalaman yang berharga buat gue. Banyak kejadian lucu yang terjadi di rumah tua itu. Salah satu yang paling gue inget dan masih bikin senyam senyum ampe sekarang.

Di asra ma ada kegiatan yang terus di pertahankan hingga sekarang.

Shalat magrib berjamaah.

Seluruh penghuni asrama yang ada harus mengikuti shalat magrib berjamaah yang dibikin di ruang tengah. Ngga hanya penghuni asrama, tapi juga beberapa orang anggota paguyuban yang emang suka datang ke asrama.

Salah satunya kita sebut saja Bang Budi. Bang Budi ini adalah salah satu orang yang cukup sering main ke asrama.

Bang Budi ini orangnya agak mesum. Kita semua tau.

Waktu itu lagi shalat magrib berjamaah. Lagi khusyuk-khusyuknya.

Dan ditengah shalat, hape Bang Budi bunyi, ngga disilent. Ada yang nelfon.

Dengan ringtone biasa aja, suara telepon akan cukup menggangu. Tapi kali ini berbeda.

Ringtone handphone nya Bang Budi itu desahan cewe. Persis kayak yang ada di film-film bokep.

Jadilah dari rakaat kedua, hingga hampir selesai. Kita shalat dengan diiringi desahan cewe.

“Ahhhhhh..Uhhhhhhh…ahhhhhhh..Yessss…..”

Suasana shalat berjamaah udah jauh dari kata khusyuk. Gue dan teman-teman asrama yang lain udah nahan ngakak dan konak. Bapak-bapak yang ikutan shalat mulai batuk-batuk.

Suara imam bersahut-sahutan ama desahan cewe itu.

“Bismillahirrahmann..ahhhh..uhhhhhhh..ahhhhhhhhh”

Semua menjadi sangat-sangat risih.

Selesai shalat bang Budi cuma bisa mesem-mesem.

Dan gue ngakak setengah mati.

Akhirnya gue mengerti kenapa anjuran mematikan handphone sebelum shalat berjamaah itu sangat di anjurkan.

 

Suasana Ramadhan mengingatkan gue kembali ke masa-masa tinggal di asrama. Dan yang pasti gue bakal sering menulis lagi tentang kisah-kisah tolol tinggal di asrama.

Dan dengan ini gue mengucapkan, selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan bagi pembaca romeogadungan.com yang menjalankan.

Semoga menjadi pribadi yang lebih baik ya.