Masih inget tulisan gue yang ini?

Tulisan yang gue bikin ketika gue ingin mengirimkan naskah gue ke penerbit. Setelah berbulan-bulan di gantungin kayak kolor ngga kering, akhirnya beberapa hari yang lalu kabar itu tiba.

Sebuah paket dikirimkan ke kantor gue. Hasilnya?

Naskah gue ditolak.

Naskah yang gue kirimkan dikembalikan beserta dengan surat penolakannya.

Di dalam surat itu, berisi ucapan terima kasih telah bersedia mengirimkan naskah ke mereka. Gue bahkan ga ingat apa kalimat persisnya, karena mata gue langsung tertuju ke kalimat “maaf kami belum bisa menerbitkan naskah anda”

Di dalamnya juga berisi satu tabel penilaian naskah yang telah mereka isi.

Kriteria yang diberikan ada beberapa, mulai dari plot, karakter, gaya penulisan, humor, dan beberapa hal lainnya. Setiap kriteria penilaian akan dirange berdasarkan skala 1 sampai 5. Dan naskah gue, mendapatkan nilai dua untuk semua kriteria.

Gue sangat berharap ini adalah kejadian reality show seperti Mobbed, dimana akan muncul kamera dan ratusan orang muncul dan mulai menari-nari di depan gue.
Atau gue berharap ini adalah acara Spontan dimana Komeng akan keluar lalu bilang ke gue “Uhuiii”. Bukan.

Gue baca surat itu berulang-ulang, gue pastikan kalau nama gue tercantum di bagian penerimanya. Kali-kali aja salah kirim.

Tapi ternyata engga, itu emang tulisan gue. Tulisan yang pernah gue tulis dan beberapa diantaranya pernah gue publish di blog ini. Cerita-cerita yang gue bikin di malam-malam sepi. *menerawang jauh keluar jendela*

Gue kira ini sudah cukup baik. Ternyata belum.

Gue cuma bisa terduduk lemas melihat naskah gue.

Ini adalah pertama kali gue mengirimkan naskah, dan pertama kali juga di tolak ama penerbitnya.

Dan ternyata, di tolak penerbit ngga kalah rasanya dari ditolak gebetan. Bedanya, ditolak penerbit ga pake ekspresi iba “di rumah ga ada kaca? Ngaca!”

Gue terduduk lemas di kursi gue.

Membayangkan kalo semua effort dan kerja keras gue sia-sia.

Sempat ngerasa down. Justifikasi- justifikasi negatif yang langsung datang ke dalam kepala.

Berpikir bahwa tulisan gue itu jelek dan tidak layak terbit.

Berpikir untuk berenti ngirimin naskah dan konsen blogging aja.

Berpikir untuk nikah ama Rachel personel Princess.

Tapi gue berpikir lagi,

Ini adalah naskah pertama gue yang pernah gue kirimin,

Ini adalah penerbit pertama yang menolak karya gue.

Ini adalah surat penolakan pertama gue.

Ini bukan akhir dunia.

Ditolak cewe berulang – ulang aja ngga membuat gue menjadi homo. Kenapa impian gue untuk nerbitin buku harus gue padamkan?

Masih ada puluhan penerbit yang bisa gue coba.

Harry Potter ditolak berulang-ulang oleh penerbit sebelum akhirnya menjadi seperti sekarang ini.

Ini mungkin sedikit cobaan buat gue,

Cobaan untuk belajar menulis lebih giat.

Karena mungkin, (menurut sebagian orang) tulisan gue belum cocok untuk diterbitkan secara komersil.

Gue harus tetap belajar, tetap bersabar.

Hingga suatu saat nanti, buku gue akan terpajang di salah satu rak di semua toko buku di Indonesia.

Meanwhile, let’s keep writing.