Waktu itu Juni 1999, tepat di hari pemilihan umum. Gue berumur 11 tahun dan masih duduk di kelas enam SD. Sepulang sekolah, gue membantu nyokap untuk berjualan jagung di pinggir jalan setiap hari.

Tapi kali ini berbeda, karena sekolah libur gue akan berjualan dari pagi hari.

Jagung itu dibeli per karung dari juragan jagung yang kemudian dikupas dari kulitnya. Jagung-jagung itu dibungkus dengan menggunakan plastik berwarna kuning untuk menonjolkan warnanya.

Setiap plastik berisi tiga buah jagung sama besar. Sebungkusnya dijual seharga 700 rupiah, namun jika ada yang membeli tiga bungkus sekaligus, gue akan lepas dengan harga dua ribu rupiah.

Itulah pelajaran ekonomi pertama yang gue pelajari secara langsung. Diskon.

Jagung-jagung yang telah dibungkus rapi itu disusun di rak kayu lalu akan dijajakan sepanjang jalan Sunggal di Medan. Hanya sedikit orang yang berdagang jagung hari ini karena hampir semua dari mereka memilih untuk meramaikan pesta pemilihan umum. Hanya ada gue hari ini, di sepanjang jalan yang biasanya penuh dengan pedagang yang menjual barang yang sama.

Nyokap gue memutuskan untuk menyerahkan kepercayaan untuk berjualan jagung hari ini. Dia sendiri akan mencoblos di TPU terdekat dari rumah. Sebelum pergi, dia cuma berpesan satu hal.

“Hari ini harganya dinaikin. Jadi lima ribu rupiah sebungkus. Pokoknya gak boleh kurang.” pesan nyokap gue waktu itu.

“Iya nda,” gue patuh.

“Dagangan hari ini harus habis”  gue bertekad dalam hati.

Jalanan hari ini agak sepi karena semua orang tampaknya ingin berpartisipasi dan mencoblos partai pilihan mereka. Gue hanya bisa duduk di pinggir jalan sambil menjaga jagung dagangan gue. Sesekali mobil yang melaju kencang menghembuskan angin bercampur debu jalanan ke arah muka.

Gue mencoba menghalaunya dengan menutup mulut gue dengan tangan. Menjaganya agar tidak terhirup masuk ke paru-paru. Untuk membunuh waktu, gue membaca buku pelajaran yang gue bawa dari rumah. Sekedar untuk mengulang pelajaran kemarin yang diajarkan di sekolah. Ketika sudah terlalu bosan dengan buku pelajaran, gue mengambil potongan koran yang terbang dibawa angin jalanan.

Hanya selembar, dan satu-satunya artikel adalah tentang pemilu hari ini. Sedikit berat untuk seorang anak SD, tapi gak masalah, gue lahap habis artikel itu agar tidak terlalu bosan.

Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di pinggir dagangan gue, membuyarkan sementara konsentrasi gue dalam membaca artikel itu.

“Berapa harga jagungnya dek?” seorang bapak keluar sambil bertanya kepada gue.

“Sebungkusnya lima ribu pak” kata gue sesuai pesanan nyokap.

“Kok mahal? Biasanya cuma dua ribu tiga” katanya heran. Pertanda dia memang sering membeli jagung di daerah ini.

“Iya pak, hari ini agak mahal”

“Ah, kemahalan! Kurang ya?”

“Gak bisa pak. Harganya udah segitu.” Gue tetap konsisten dengan harga awal.

“Ah, mahal banget. Biasanya gak segini.”

“Iya pak, udah pas.” gue berkelit

“Yauda gak jadi, saya beli di tempat lain aja!” kata si Bapak sambil membanting pintu mobilnya.

Gue pun kembali duduk dan melanjutkan membaca potongan koran itu. Pokoknya harganya gak berubah dari pesanan nyokap gue. Kalau gak laku, berarti bukan rejeki kami hari ini.

Tak berapa lama berselang, mobil yang sama kembali merapat. Bapak yang sama, kembali keluar.

“Yauda, saya pesan lima. Masukin ke plastik yang besar ya?”

Gue pun tersenyum dan langsung mengambil plastik besar untuk membungkus pesanan si Bapak.

“Saya udah keliling jalan ini, gak ada yang jualan lagi selain kamu. Pinter kamu ya? Harganya dinaikin. Kelas berapa sekolahnya?”

“Kelas enam pak,” kata gue sambil mengambil uang dua puluh lima ribu dari si bapak.

“Makasi ya pak”

‘Iya sama-sama.” Kata si bapak sambil kembali masuk ke dalam mobilnya.

Sepanjang hari, belasan mobil akhirnya berhenti di rak kayu gue. Mereka membeli habis semua dagangan gue bahkan tanpa gue kurangi harganya.

Ketika matahari baru tergelincir sedikit dari puncaknya, semua dagangan gue tandas. Puluhan ribu rupiah hasil jualan jagung sudah berada di dalam saku celana pendek gue. Setelah selesai merapikan rak kayu dan perlengkapan dagangan, gue berlari menuju TPU di dekat rumah, memberikan semua uang tersebut ke nyokap gue.

Hari itu gue belajar ilmu ekonomi kedua dalam hidup gue, “ketika penawaran terbatas, dan permintaan tetap atau meningkat, harga akan menanjak naik.”

Dua teori yang membuat gue tertarik dengan ilmu ekonomi.

Pelajaran ketiga, dan yang paling penting dari berjualan jagung hari itu (dan hari hari lainnya) adalah : kerja keras dan konsistensi. Jangan mudah menyerah untuk mengejar apa yang lo mau dan mempertahankan prisip.

Pelajaran itu gue bawa terus hingga gue SMA.

Waktu itu Aceh baru saja dihajar tsunami. Gempa susulan masih sering sekali terjadi. Sekolah gue hancur lebur dan kami terpaksa diliburkan menunggu suasana kondusif untuk bisa kembali belajar. UAN dan SPMB sudah mendekat, dan gue bahkan belum siap sama sekali.

Karena tidak sekolah, gue sibuk membantu aktivitas di rumah gue yang dijadikan Posko Polri selama beberapa bulan. Rumah gue, tiba-tiba dihuni oleh puluhan orang yang datang entah dari mana.

Ruang tamu dan ruang keluarga dikosongkan untuk dijadikan ruang tidur raksasa.

Gue terdepak dari kamar gue sendiri, tidur beramai-ramai di atas karpet di ruang tamu dengan saudara-saudara gue yang tidak punya rumah lagi. Sementara kamar gue, dijadikan kamar untuk para jenderal yang datang dari Jakarta.

Infrastruktur yang hancur dibantai gempa dan tsunami membuat listrik tidak menyala untuk beberapa lama.

Di antara nyala lilin, gue melahap habis buku-buku fisika, kimia dan matematika sebagai upaya mengejar ketertinggalan. Hal itu gue lakukan setiap malam, agar gue bisa siap untuk UAN dan SPMB meskipun gak jelas kapan sekolah gue akan dibuka lagi.

Setelah dirombak habis-habisan, bulan Maret 2005 sekolah gue dibuka kembali. Hampir tiga bulan lamanya gue berhenti sekolah. Dan dengan waktu yang tersisa, gue mengejar ketertinggalan untuk UAN yang datang tinggal satu bulan lagi. Belajar mati-matian hingga akhirnya bisa lulus UAN dan SMPB di bulan Agustus 2005.

Kebiasaan ini berlanjut hingga kerja.

Waktu bekerja di EY, gue pulang malam hampir tiap hari. Ketika orang sudah hampir terlelap tidur, gue baru keluar dari kantor. Gue hanya bisa memandangi lampu dari jendela perkantoran yang sebagian besar sudah padam dari belakang jendela taksi yang sedang berjalan.

Pernah gue bertanya pada diri sendiri : “Kenapa gue kerja hingga tengah malam gini ketika sebagian besar orang sudah tidur?” Namun entah kenapa, ada suara kecil dalam hati yang muncul seolah meyakinkan

“Semua akan berbuah manis pada waktunya. All of your hard works, it will be paid off.

Setibanya di kosan, gue kembali membuka laptop, mencoba menulis apa yang gue rasa sebagai bahan tulisan untuk blog gue. Gue tahan kantuk yang datang di tengah malam, memaksakan diri agar bisa terjaga beberapa menit lagi untuk menulis.

Mudah-mudahahan bisa dapat satu tulisan untuk malam ini, jika tidak akan gue lanjutkan besok sepulang lembur.

Hanya untuk menyalurkan hobi, siapa tau bisa membantu jalan gue untuk meraih mimpi gue yang lain. Menerbitkan buku.

Dan sepanjang hidup gue, berulang kali orang meremehkan dan menilai gue. Sebenernya hal ini gak masalah buat gue. People judge people. Orang akan selalu menilai lo meskipun gak tau gimana kondisi sebenarnya.

Keberuntungan kadang sering kali dijadikan alasan untuk menihilkan kerja keras seseorang.

“Gila, lo hoki banget ta bisa lulus ke Unpad?”

“Wah, beruntung banget bisa keterima kerja disana?”

“Sekarang udah nerbitin novel ta? Enak banget lo!”

 

Gue cuma bisa menarik napas panjang, memasang seulas senyum di muka, lalu berkata kepada mereka.

“Iya, lagi beruntung aja nih”

Karena sukses adalah 99% kerja keras dan 1% keberuntungan.