Di kantor gue yang sekarang, terdapat jumlah mahmud yang signifikan. Bagi yang belum tau mahmud, mahmud itu adalah mamah-mamah muda. Ngga seperti di kantor gue yang lama, yang sebagian besar pekerjanya adalah pemuda pemudi yang jarang ganti kolor kalo peak season sudah tiba.

Disini sebagian besar adalah ibu-ibu muda atau para bapak-bapak mapan yang baru saja mempunyai anak pertama atau kedua.

Bergaul dengan para ibu-ibu funky ini, membuat gue sedikit banyak mengetahui dunia para ibu-ibu. Dunia popok dan susu anak, ngatur uang belanja, hingga kadang-kadang menjurus ke urusan kamar tidur.

Semua digosipin pas makan siang. Gue tentu saja nguping, as always. Hahaha

Ada satu hal yang menarik yang menjadi pikiran gue beberapa hari ke belakang dari pembicaraan para ibu-ibu muda itu.

Masalah nama.

Ntah siapa yang memulai, tapi tampaknya nama anak sekarang sudah menuju ke satu trend tertentu. Nama ke arab-araban.

Sekarang kita semua pasti familiar dengan nama Keisya, Rasya, Vanesya, Daffa, Arsya ampe Pasha.  Nama-nama yang luar biasya.

Kadang nama itu di perberat dengan penambahan beberapa suku kata dibelakangnya.

Rasya Muhammad Athaya atau Keisya Dewina Airlangga.

Nama anak sekarang panjang berima. Kayak pantun. Dan semua itu akan lebih kacau lagi jika suku kata terakhir di tambah family name yang berasal dari nama bapaknya yang sama sekali ngga nyambung dengan nama anaknya.

Raysa Muhammad Athaya Wagiman. Failed!

Dan kebanyakan, nama-nama anak tadi itu terdiri 4 suku kata. Dan beberapa bahkan ampe 5 suku kata. Panjang dan penuh sesak kayak KRL ke bogor.

Yang jadi pertanyaan gue adalah..bagaimana nasib anak-anak ini ketika mengisi nama mereka di SPMB nanti?

Dimana mereka harus menghitamkan sekian banyak bulatan hanya untuk nama mereka.

Mereka akan kalah cepat dengan anak-anak bernama Budi atau Anto.

“Lima menit lagi!”

“Ra..sya….Fadhil…la..atau fadila? Akh shit, L nya kurang satu!” si anak panik sambil cepirit.

Kemungkinkan mereka kehabisan waktu akan meningkat 83% (ya, persentase ini ngasal).

Ntah kemana hilangnya nama-nama asli Indonesia seperti Iwan Sumringah atau Rudi Bogel.

Lenyap tanpa bekas.

Gue sepenuhnya tau bahwa nama seorang anak adalah bentuk pengharapan atau doa orang tuanya.

Tapi kita tau betapa kejamnya dunia abege jaman sekarang, dimana nama panggilan bisa sangat jauh dari nama aslinya. Dan sebaiknya orangtua juga harus mempertimbangkan hal ini dalam proses pemberian nama kepada anaknya.

Kadang nama yang bagus, menghasilkan nama panggilan yang sama sekali ngga nyambung.

Gue aja kadang suka noleh kalo orang manggil Darius.

Gue punya temen (beneran ga boong) yang punya nama bagus luar biasa.

Nama nya Einstein Erlangga. Namanya kurang bagus apa coba?

Kalian tau apa nama panggilan dari temen-temennya? Ateng.

……………………………

Dunia remaja itu keras Jendral!

Tapi memang sih, gue menyadari sepenuhnya kalau nama Indonesia itu kurang keren terdengar. Nama bule akan terdengar lebih keren. Apalagi untuk bisnis.

Pernah nyadar betapa gantengnya Lehman Brothers terdengar?

Lehman Bersaudara? Terdengar seperti toko beras.

Kantor auditor Ernst and Young? Bandingkan dengan Anto dan Fitri?  Kayak sinetron stripping.

Charles and Keith? Apa jika ada merk sepatu bernama Jajang dan Suparno anda tertarik membelinya?

Jadi serba salah ya?