Well, sejak gue sakit, banyak nasehat yang gue dapat dari orang-orang yang datang menjenguk.

“Diambil positifnya aja, Ta” adalah nasihat yang paling umum gue terima.

Sebenarnya agak susah sih mencari hal positif dari sebuah penyakit langka yang membuat lumpuh selama berbulan-bulan. Gue nggak terlalu suka dengan kegiatan mencari alasan ini. Menjadi hal yang sangat Indonesia sekali. Mencoba mencari hikmah di balik sebuah peristiwa.

Rumah dirampok tapi masih aja ngomong “Untung cuma barang yang ilang!”

Atau ketika kena tabrakan beruntun, ngomongnya “Untung cuma patah kaki!”

Maybe that’s why everything happens for a reason. Because we are always making excuses.

Tapi tampaknya mereka benar, kali ini mungkin gue harus mengambil positifnya. Biar nggak stress sendiri. Sedikit memutar otak, gue berusaha menuliskan hal-hal positif yang gue dapat dari penyakit ini.

1. Gue punya banyak waktu luang.

Karena kondisi gue yang nggak memungkinkan untuk bekerja, gue mendapat fasilitas cuti sakit dari kantor (dengan gaji penuh untungnya).

Udah sembilan bulan ke belakang gue nggak ngantor, nggak berhadapan dengan kemacetan Jakarta dan nggak punya deadline.

That’s one, right?

Untungnya, penyakit ini nggak mempengaruhi otak dan kemampuan berpikir gue. Selain kaki yang belum bisa digunakan, gue benar-benar terlihat seperti orang sehat.

Dan dengan kondisi yang sehat dan waktu yang luang, gue benar-benar bisa mengerjakan apa saja sesuka hati gue.

Mulai dari bangun agak siangan, baca berita, main twitter, dan lain-lain. Sebagai akibatnya, gue hampir tidak pernah ketinggalan satu isu apapun yang terjadi di Indonesia. Mulai dari SBY curhat ampe awkarin naek kuda.

2. Portfolio yang bertumbuh.

Sehubungan dengan hal no.1 di atas, gue juga semakin mempunyai banyak waktu untuk memperhatikan bursa dan mempertajam analisa gue terhadap saham-saham yang gue pegang.

Selama ini, investasi saham hanya gue lakukan secara sampingan ketika kerja. Dengan banyaknya waktu luang yang gue miliki sekarang, akhirnya gue bisa menganalisa dan memilih saham dengan lebih baik.

Dan sebagai buktinya, portfolio gue memberi return hampir 100% sejak gue sakit. Lumayan kan?

3. Pusat perhatian.

Untuk hal yang satu ini, bisa menjadi baik atau buruk tergantung dengan porsi yang kita terima. Waktu awal-awal gue sakit, senang rasanya untuk bisa menjadi pusat perhatian setiap kali teman-teman datang menjenguk.

Tapi di lain waktu, perhatian yang berlebih ini menjadi hal yang kurang menyenangkan.

Tatapan kasihan (pity looks) yang gue terima dari orang asing setiap kali gue pergi ke tempat umum membuat gue merasa tidak nyaman. Mungkin mereka merasa heran, kenapa orang di usia puncak seperti gue harus duduk layu di kursi roda.

Dan gue juga selalu berusaha untuk tidak menjadikan diri gue sebagai pusat perhatian.

Misalnya : ada yang lagi ultah di grup whatsapp kantor. Kan otomatis orang-orang akan memberikan ucapan selamat. Dan sering kali, ketika gue mengucapkan selamat, perhatian orang-orang akan berpaling ke gue dan menanyakan kondisi gue.

Ini bikin gue merasa nggak nyaman. I don’t want to steal the thunder. Gak enak selalu menjadi pusat perhatian. Now I understand that anonymity is very underrated.

4. Sakit menjadi perekat.

Kondisi gue sakit, membuat ayah dan bunda gue (yang sudah bercerai) menjadi lebih akrab. Komunikasi mereka menjadi lebih baik. Bahkan waktu itu, ketika gue masih di rumah sakit, untuk pertama kalinya gue melihat ayah dan bunda shalat berjamaah.

Dua puluh delapan tahun gue hidup dan baru kali itu gue melihat mereka begitu.

It’s a nice thing to see.

5. Sakit itu menjadi filter.

Ternyata benar, kondisi sakit dan susah sering kali menjadi filter orang-orang yang sayang dan peduli terhadap kita. Hal ini berlaku untuk saudara, teman-teman, bahkan gebetan.

Dalam kondisi seperti ini, akan terlihat orang-orang yang benar-benar tulus membantu dan memutuskan untuk tetap tinggal. Dan sebaliknya, kondisi ini juga lah yang membuat sebagian dari mereka memutuskan untuk pergi.

And it’s completely fine.

 

Gue nggak bisa menuliskan hal lain setiap kali orang menyarankan ‘ambil positifnya aja’. Yang gue tau, sebagaimana pun kerasnya gue mencoba untuk positif, gue sudah sangat tidak sabar untuk sembuh.

Biar hal yang positifnya jadi makin banyak!