Malam itu berangin. Angin dingin bulan Januari bertiup kencang di sela-sela kami. Aku dan dia baru selesai menonton sebuah film yang digembor-gemborkan akan banyak menerima piala Oscar di tahun ini.

“Makan yuk, aku laper”

“Dimana?” tanyanya

“Ini daerah kamu, you choose!” ujarku tidak ingin pusing

“Lagi dingin-dingin begini, bakso gimana bakso?”

Sounds good

Ajakan ku dan dinginnya udara malam itu mengantarkan kami ke sebuah meja dan kursi panjang milik penjaja bakso di daerah Jakarta Pusat. Tak lama menunggu, pesanan bakso kami datang.

“Selamat makan!” ujarku dengan ceria mengambil sendok untuk mencicipi rasa kuah bakso yang dihidangkan.

“Selamat makan! Pelan-pelan, kuahnya panas” balasnya sambil tersenyum geli melihat ketidaksabaranku.

Ia menatap mangkuk baksonya lalu kemudian terpekur menunduk sambil memejamkan mata, berdoa. Ah ya. Hal yang akan selalu dilakukannya sebelum menyantap suatu makanan.  Ia menyisihkan beberapa detik dari waktunya untuk mengucap doa Bapa kami.

Bukan berarti aku makan tanpa berdoa. Tapi bentuk doaku lebih sederhana. Aku mengucap ‘Bismillahirrahmanirohim’ dalam hati sambil menyantap suapan pertama. Simpel saja.

Mengingat kebiasaan kami yang berbeda, aku tercenung. Ya, Tuhan memang ciptakan aku dan dia berbeda. Ah tentu saja.

Dia dilahirkan dengan jenis kelamin pria, sedangkan aku wanita. Namun bukan itu saja. Kami memiliki banyak perbedaan lainnya.

Seperti kecintaannya pada warna biru, sedangkan merah pilihanku. Kami pun mendukung 2 tim sepak bola yang berbeda, persis seperti warna favorit kami, jersey tim nya berwarna biru sedang tim unggulanku mengenakan warna merah.

Tapi perbedaan sepele seperti ini semestinya bukan masalah. Karna toh kata orang perbedaan justru menjadi bumbu penyedap dalam suatu hubungan.

Perbedaan lainnya, ah, nama nya memiliki marga, sedangkan aku tidak. Asalku dari daerah barat, sedangkan ia dari timur. Namun apalah artinya sebuah nama dengan marga. Bukan masalah besar. Justru kami mencerminkan semangat Bhinekka Tunggal Ika yang digalakkan negeri ini sebagai semboyannya. Ada ratusan ras dan suku bangsa di negara kita tercinta, bukan?

Ya, perbedaan yang satu ini pun tidak menjadi persoalan berarti untukku dan dia. Aku rasa batas toleransi kami masih lebih tinggi dari itu. Hanya ada satu perbedaan mendasar yang mengganggu pikiranku. Perbedaan yang menjadikan jalan ke depannya menjadi sulit dan berliku.

Kami menyakini Tuhan yang berbeda.

Ia tumbuh dengan ajaran sekolah minggu. Sedangkan aku dipanggilkan guru mengaji setiap sore ketika kecil dahulu.

“Bakso nya enak?” tanyanya mebuyarkan lamunanku

“Enak enak. Aku jarang nih nemu bakso enak begini akhir-akhir ini”

“Gih abisin, keburu dingin”

Aku membalas dengan anggukan.

Pikiranku melayang kembali ke masa depan hubungan kami. Hingga saat ini aku masih belum tau hubungan ini akan dibawa kemana.

Entah batas toleransinya sejauh apa, namun batas toleransi ku belum mampu untuk mengatasi perbedaan yang satu ini. 2 jam pelajaran Kewarganegaraan dan PPKN dari sekolah dasar hingga sekolah menengah setiap minggu tidak mengajarkan toleransi umat beragama dalam hubungan asmara.

Ada keegoisan mendasar dalam diri untuk mendengar imamku mengucap ijab kabul dengan menggenggam tangan ayahku di hadapan penghulu suatu hari nanti.  Aku yakin begitu juga dengannya. Kutau pasti ia bermimpi untuk berjalan di altar lalu mengucapkan janji pernikahan dengan nama kristus untuk mendidik keluarganya di jalan keselamatan yang diajarkan oleh-Nya.

Karna sepertinya jalan tengah untuk mempertahankan egoisme keyakinan masing-masing dan tetap bersama bukanlah pilihan yang tepat untuk kami. Aku mengerti kewajiban yang harus ia penuhi kepada kedua orang tua dan Tuhannya, begitu juga denganku.

Pikiranku mulai keruh.

Jadi ketika Tuhan ciptakan cinta diantara aku dan dia, gunanya untuk apa?

Untuk menguji kesabaranku? Atau untuk menguji keimanannya? Aku tak tau.

Padahal rasa yang tercipta begitu nyata. Aku tidak ingin memilih. Imanku bukan pilihan, begitu juga dengannya. Demi Tuhan ku ingin memperjuangkan. Tapi kuragu Tuhanku akan mengizinkan. Bagaimana dengan Tuhannya? Mungkinkah Tuhannya akan sedikit bermurah hati?

Atau sudah saatnya aku dan dia menyerah? Berhenti berpura-pura menjadi romeo dan juliet dan menganggap cinta mampu mengatasi segala perbedaan. Sebagai sebuah konsekuensi dari menginginkan sesuatu yang tidak akan pernah bisa dimiliki.

Entahlah.

Ia menyendok suapan terakhir dari mangkok bakso miliknya lalu menatap ke arahku.

“Kamu udah? Kok bengong gitu?”

“Gapapa” ujarku sambil tersenyum lirih.

“Yuk, udah jam segini, ntar mama kamu nyariin”

Aku menghela napas panjang. Mengikutinya berjalan pelan ke arah parkiran. Mataku menatap tangannya yang menggandeng tanganku erat. Seperti takut diriku akan hilang dalam gelap.

gambar diambil disini

 

Aku kembali menghela napas panjang.

Andai saja perbedaan kami sesimpel kecintaannya pada warna biru sedangkan merah untukku. Andai saja bukan gereja tempat yang ia kunjungi setiap minggu sedangkan sajadah tempat ku bersujud dalam lima waktu.

Andai saja bukan doa Bapa kami yang ia baca ketika hendak makan sedangkan kata basmallah yang terlafal dibibirku.

Andai saja kami tidak pernah jatuh cinta.

Karena aku, dia, dan Tuhan kami, berbeda.

 

 

Note : Tulisan ini adalah karya Shinta Pratiwi. Salah satu blogger yang gue minta jadi penulis tamu di romogadungan.com. Tulisannya selalu punya warna dan kegalauan yang khas, yang selalu gue suka.  Baca tulisan-tulisan Shinta yang lain di blognya disini.