Gue adalah orang Aceh.

Ayah asli Aceh, dan Bunda juga masih 100% Aceh. Dan gue, kalo bahasa Harry Potternya, masih pure blood.

Acehnese and proud! (Ini chauvinisme, jangan ditiru ya teman-teman)

Meskipun udah keluar dari Aceh sejak 2005 untuk kuliah dan kerja, setiap tahun gue pasti balik ke Aceh. Keluarga gue masih disana semua.

Gue tinggal sendirian di Jakarta.

Saking bangganya dengan ke-Acehan gue, gue selalu mengasah kemampuan bahasa Aceh gue meskipun ngga lagi tinggal di Aceh. Segitu bangganya gue dengan Aceh, Gue ikut komunitas orang Aceh di Bandung. Gue selalu menggunakan bahasa Aceh di tempat-tempat yang memungkinkan. Contohnya dimana? Di warung Mie Aceh.

Kadang, dengan hal ini, gue bisa mendapatkan diskon.

Gue terinspirasi dari teman-teman gue orang Padang waktu kuliah di Bandung dulu. Orang padang, terkenal dengan kemampuan silat lidahnya yang paling jago. Makanya, pedagang dan diplomat-diplomat unggul selalu muncul dari daerah ini. Waktu jaman kuliah dulu, teman-teman gue yang orang Padang asli, selalu menjadi tempat titipan untuk beli buku kuliah di daerah Palasari. Karena, daerah Palarasi tempat menjual buku-buku bekas dan bajakan di Bandung, isinya orang Padang semua.

Teman-teman gue yang orang Padang, selalu menjadi agen buat beli buku ke Palasari, ketika masa kuliah sudah dimulai. Dengan harapan, bisa mendapatkan harga yang lebih murah. Dan ya, pada kenyataannya, emang bisa lebih murah karena teman-teman gue menggunakan kedekatan kesukuan mereka untuk hal itu.

Terinpirasi dari kejadian itu, gue menggunakan alasan yang sama ketika makan mie Aceh.

Gue selalu menggunakan bahasa Aceh ketika memesan. Dengan harapan bisa lebih murah. Tapi yang sering terjadi adalah, bukan lebih murah, gue dapet tambahan kerupuk gratis. Ya lumayan lah. Bahkan pernah saking pedenya, gue pernah memesan makanan di Gampong Aceh, restoran Aceh yang cukup terkenal di Bandung, dengan menggunakan bahasa Aceh ke pelayannya.

“Kak, mie Aceh jih saboh beuh. Bek keung that beuh” kata gue. (Kak, mie Aceh nya satu, jangan pedas banget ya?”)

“Punten kang, ga bisa bahasa Aceh” kata si mbak yang ternyata orang Sunda.

“………….”

Tapi ada hal-hal dimana gue merasa ketika ada dua budaya yang berbenturan, bikin gue seolah berkata “kok gini amat ya?”.

Mungkin hal ini terjadi karena situasi yang terlalu homogen yang terjadi di Aceh.

Contohnya gini, pemakaian kata ganti gue, lo, banget, dll di Aceh engga lazim digunakan. Dan gue tau sepenuhnya itu. Gue selalu menghindari pemakaian kata-kata itu disana. Tapi ada masa dimana gue keceplosan, dan reaksi yang gue dapetkan adalah :

“Yaelah, gue lo. Kayak bukan orang Aceh aja”

Gue mengalah dan menanggapi nya dengan ketawa-ketawa dan salto kebelakang.

Dulu sempet ada teman SMA gue yang nanya, kenapa blog ini make ‘gue-lo’ sebagai kata gantinya.

Meskipun gue bisa menjawab dengan “So what? It’s my blog, I could write anything that I want in here. Now go fuck yourself!”, gue mengalah dan memberikan jawaban yang lebih rasional.

Karena blog ini dibuat ketika gue sudah menggunakan ‘gue-lo’ daripada ‘aku-kamu-ko-kau’ sebagai kata ganti. Dan emang, pembaca gue mayoritas berasal dari Jakarta dan Bandung. (berdasarkan statistik blognya yang gue dapat)

Di daerah, karena situasi yang terlalu homogen, orang tidak terlalu menghargai perbedaan. Setiap ada perbedaan yang muncul, selalu dianggap buruk, radikal, aneh, nyentrik dan dicap negatif. Padahal pada kenyataannya, belum tentu kayak gitu.

Ketika gue ngumpul ama temen2 cowo gue di Aceh kemaren,

Ketika lagi asik ketawa ketiwi di warung kopi sehabis buka puasa, seorang wanita melintas di depan meja kami yang berisi segerombolan pria. Wanita itu menggunakan jeans dan kaos agak kekecilan, tanpa menggunakan jilbab. Suatu hal yang ga lazim di Aceh.

Seketika, teman gue, yang gue anggap cukup alim, langsung berkomentar…

“Ta, menurut ko cewe itu jablay bukan?”

WTF?! Kenapa harus jablay kata pertama yang melintas? Kenapa engga.. “Cewe itu non muslim” atau “cewe itu bukan orang Aceh asli, mungkin dia ga tau peraturannya”

Kenapa harus jablay?

Apakah ada standar nasional pakaian jablay yang gak gue tau?

Idealnya, situasinya harus berjalan dengan cara simbiosis mutualisme, dimana si cewe, harus menjaga pakaiannya, karena emang peraturannya kayak gitu. Dan temen gue, yang gue yakin orang yang pikirannya masih kayak gitu jumlahnya minoritas di Aceh, harus menjaga otaknya tetap di kepala, bukan di selangkangan.

Tapi kondisinya sayang ga kayak gitu. Perbedaan masih dianggap negatif.

Bahkan kakak gue sendiri kayak gitu.

Gue pernah nelfon pacar (dulu) malem-malem, dimana waktu itu ada kakak gue yang duduk di sebelah gue. Si (mantan) pacar bilang dia baru pulang lembur, karena emang waktu itu lagi jadwal closing di kantornya.

Otomatis kakak gue bilang : “Duh, cewe apa yang pulang jam 10 malem?”

Mendengar kayak gitu, gue kaget. Apa salahnya cewe yang pulang jam 10 malem? Toh emang udah kerja? Dan kerjaannya jelas.

Disitu gue kembali berpikir, di daerah (dan gue yakin bukan hanya di Aceh), pulang kerja jam 10 malam bukan hal yang lazim. Disana, semua orang pasti sudah di rumah ketika magrib.

Perbedaan macam inilah yang selalu dianggap negatif.

Lagi-lagi, minoritas harus mengalah.

Tapi, makin kesini, gue jadi semakin berpikir. Ampe kapan mau terus begini?

Kapan kita bisa menghargai perbedaan dengan cara yang dewasa?