Gue harus buru-buru menonton film ini karena beberapa alasan.

  1. Film ini punya sejarah yang panjang.
  2. Spoiler yang udah bertebaran di social media.
  3. Dian Sastrowardoyo. Hahaha.

Sejak kemunculan mini serie AADC (yang sekaligus iklan Line) di Youtube tahun 2014 lalu, kayaknya film ini udah menjadi tontonan wajib untuk semua remaja SMA medio 2000an.

Awalnya gue sempet menyuarakan ketidaksukaan gue dengan munculnya sekuel film ini di twitter. Bukan apa-apa, AADC pertama menurut gue sudah pas.

Ending-nya ngasih ruang imajinasi para penontonnya untuk membuat ending mereka masing-masing. Belum lagi dengan adanya iklan LINE tadi, semua itu ngasih jawaban yang pas untuk para penontonnya.

Dan dengan adanya sekuel AADC, ada ekspektasi penonton yang dimainkan. Gimana kalau filmnya jelek? Gimana kalau ending-nya nggak seperti yang kita kira selama ini? Gimana kalau ini semua cuma khayalan Rangga yang ternyata sedang koma?

Oke, gue mulai berlebihan.

Tapi yang jelas, gue menonton film ini dengan sedikit rasa was-was.

Dan setelah sekitar 120 menit berakhir… gue puas!

Plotnya masuk akal. Ceritanya masih nyambung dan nggak maksa. Soundtrack nya masih bagus dan membuat gue terbang ke belasan tahun yang lalu.

Dan Dian Sastronya…

Adegan Dian Sastro yang gemes-gemes kesel itu beneran nggak ada lawannya sih.

Screen Shot 2016-04-30 at 5.00.55 PM

(Ya Allah, boleh minta yang kayak gini satu lagi gak?)

Satu-satunya yang menjadi kritik gue adalah bagaimana pertemanan Cinta dkk masih terasa sedikit kasar. Untuk sebuah pertemanan yang sudah berlangsung belasan tahun, pertemanan mereka itu…apa ya? Terasa terlalu sopan.

Gue mencoba membandingkannya dengan pertemanan yang gue miliki. Gue dan teman-teman gue yang udah kenal belasan tahun biasanya udah gak pake filter kalo ngomong.

Ngomongin penampilan misalnya.

“Elo jelek banget sih, nyet?”

Langsung aja gitu. Gak usah sopan-sopan lagi.

Bukan yang..

“Cantik banget sih…”

“Ah nggak, cantikan kamu.”

“Ah, bidadari bisa aja. Cantikan kamu kemana-mana lah!”

“Cantikan kamu..”

“Kamu..”

“Kamu..”

“Cantikan lo, jablay!”

Dan pertemanan Cinta dkk itu sedikit terasa seperti itu buat gue, terlalu sopan sehingga terasa palsu.

Tapi, mengingat film ini akan diputar secara nasional, teriakan-teriakan ‘jablay’ di sebuah film nggak bagus juga.

Jadi, gue maafkan lah. Kembali ke review.

Film-film seperti AADC ini terasa spesial karena mengeksplor perasaan dan kenangan.

AADC selalu punya soft spot dalam hati gue. Ketika film pertamanya diputar, gue masih kelas 1 SMA dan gue bisa relate banget ama ceritanya. AADC terasa dekat.

Dan ketika film keduanya diputar, Rangga sudah menjadi penulis pria yang masih single di akhir umur 20an. Gimana gak makin relate?

Gue nggak akan cerita banyak tentang filmnya di sini. Yang jelas, filmnya bagus!

Yang akan gue omongin adalah perasaan.

Bagaimana sebuah film bisa mengeluarkan rasa rindu belasan tahun. Bagaimana sebuah film menjadi sarana orang bernostalgia dengan masa SMA nya.

Ada sisi magis dari petikan gitar lagu Bimbang yang terdengar dari fragmen-fragmen film ini. Mengingat bagaimana sebuah media seperti film bisa bertindak sebagai mesin waktu yang membangkitkan kenangan.

Di tengah-tengah film, gue melihat ke sekeliling. Di dalam gelapnya bioskop, ruangan ini penuh oleh pasangan-pasangan yang tidak lagi muda. Gue mencoba membayangkan mereka yang menonton film ini entah masih dengan orang yang sama sewaktu film pertamanya diputar di bioskop.

Beberapa mungkin datang dengan orang yang berbeda. Cekikan sambil mengingat lucunya Cinta dan Rangga di masa lalu sambil mengingat mantan.

Beberapa mungkin datang sendiri. Menikmati film sambil mengingat kenangan atas orang-orang tertentu.

Gue kira cuma gue yang merasakan hal ini hingga sebuah pertanyaan gue terima di akun ask.fm gue semalem.

Tir gw pengen cerita -tapi ga berani off anon-

Dulu gw nontonnya sama pacar -sekarang udah mantan- dan tadi siang tiba2 dia chat kirim “?”

Trus kirim foto tiket nonton AADC2 dengan caption “Lihat tanda tanya itu. Jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu. Sekali lagi”.

Dan kita mulai pdkt lg.

SEE?

Gimana hebatnya film ini? Bagaimana mereka bisa menghilangkan jarak dengan masa lalu?

Intinya, AADC layak banget untuk ditonton selama masih ada di bioskop. Nggak cuma sekali tapi kalau bisa berulang kali.

Karena AADC bukan sekadar film, tapi sebuah mesin waktu.

Yuk, nonton AADC?

Oia, dengerin cover lagu Bimbang yang gue suka di sini.