15 April selalu menjadi hari yang menyenangkan buat gue. Ya, hari ini gue ulang tahun. Buat yang pengen tau, ulang tahun yang ke dua puluh satu. Hehe

Ngga, yang bener ke dua puluh empat. Ayo ayo mana kadonya?

Gue dibesarkan di keluarga yang tidak terlalu mementingkan perayaan ulang tahun. Bokap gue punya alibi kayak gini :

“Buat apa ngerayain sesuatu yang pasti kita alami tanpa usaha. Kita lagi tidur juga pasti ulang tahun” kata beliau diplomatis.

Beda ama hal-hal kenaikan kelas atau kelulusan SMA yang membutuhkan effort sehingga patut dirayakan.

Ada benarnya juga sih.

Jadilah gue tumbuh menjadi sosok yang gak pernah ngerayain ulang tahun. Kue ulang tahun pertama yang gue tiup itu waktu gue kerja di EY, ulang tahun yang ke dua puluh dua. Setelah dikerjain, ternyata teman-teman gue bikin perayaan kecil-kecilan. Agak terharu sih, momen pertama kali niup lilin.

Cukup bikin berkaca-kaca sih, mengingat itu kue pertama gue setelah puluhan tahun, tapi ga mungkin gue mewek karena itu lagi di kantor.

Buat gue sendiri, ulang tahun merupakan proses refleksi melihat kebelakang. Apa saja yang udah gue raih setahun kebelakang, apa saja yang belum, dan apa saja yang telah gue tinggalkan.

Di umur dua puluh tiga, gue udah dapet kerjaan baru.

Pindah ke lingkungan baru

Bertemu orang-orang baru.

Di angka dua puluh tiga juga lah gue pindah dari kantor yang lama,

Meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang lama,

Mencoba berpaling dari hati yang lama.

Sekarang, gue bisa bilang,

Selamat tinggal dua puluh tiga.

Selamat datang dua puluh empat!