Archive for September, 2020

Day 5: My Parents

Gue adalah anak broken home. Ayah dan Bunda memutuskan untuk bercerai waktu gue masih kecil sekali. Mungkin waktu itu umur gue dua tahun. Gue juga nggak pernah ingat dengan pasti.

Jadi, gue nggak pernah merasakan sebuah keluarga yang utuh.

Masing-masing dari mereka sudah menikah lagi. Dan masing-masing punya tiga anak. In total, gue punya 6 adik.

Gue nggak pernah tau pasti apa alasan mereka bercerai dulu.

Belakangan, karena penasaran, gue sering bertanya ke Ayah atau Bunda alasan masing-masing mereka untuk bercerai pada waktu itu.

Tapi masing-masing datang dengan jawabannya sendiri-sendiri. Nggak pernah ada satu jawaban yang bulat.

Selalu ada cerita yang berseberangan dari cerita-cerita mereka waktu itu. Belum lagi bumbu-bumbu cerita dari saudara-saudara yang dulu menjadi saksi berjalannya pernikahan mereka. Semua berdiri sendiri tanpa saling melengkapi.

Pada akhirnya gue menyerah.

Gue nggak pernah cukup ngotot… Lanjut ta.. | 3 Comments

Day 4: Places I Want To Visit.

Mekah dan Madinah.

Wait, let me explain.

Gue bukanlah orang yang religius dan jawaban di atas bukan jawaban yang gue buat biar gue terdengar alim dan suci. Tapi gue beneran pengen ke Mekah dan Madinah.

Alasannya sederhana, gue udah pergi ke belasan negara selama ini. Tapi gue belum pernah sekali pun menginjakkan kaki ke Arab Saudi.

Gue bahkan udah pernah ke Vatikan, di Roma.

St. Peter’s Basilica in the background.

Dan waktu gue sakit beberapa tahun yang lalu, bokap gue bahkan pernah menyeletuk:

“Nanti kalau sembuh, umroh ya! Masa ke tempat agama orang udah pernah pergi, agama sendiri belum?!”

So, there you go!

Day 3: A Memory

It was raining.

Gue nggak tau ini udah hari ke berapa di sini. Gue sudah berhenti menghitung sejak divonis GBS beberapa minggu yang lalu. Yang gue sadari cuma percikan air hujan yang mulai menampar jendela kamar gue di lantai 16 di Rumah Sakit ini.

Tidak ada orang lain hari ini, hanya gue sendiri di kamar tanpa penunggu. Keluarga gue sudah pulang ke Aceh beberapa hari yang lalu.

Gue nggak bisa memaksa mereka untuk tinggal lebih lama. Masing-masing punya kehidupan dan tugas yang harus dijalankan. Akan sangat egois kalau meminta mereka meninggalkan itu semua hanya untuk menjaga gue.

Toh, ada suster dan dokter yang siaga menjaga gue setiap hari. Tapi nggak bisa bohong, ada rasa sepi yang harus dijalani setiap hari.

Bangun, sarapan, mandi (lebih tepatnya badan gue dilap oleh suster), latihan fisioterapi, lalu diam… Lanjut ta..

Day 2: Things that makes you happy

Setelah dipikir-pikir, ada banyak hal yang bisa bikin gue bahagia. Gue sepertinya bisa menemukan kebahagiaan di hal-hal yang sederhana. Kehidupan gue selama tiga dekade ke belakang, sepertinya mengajarkan untuk selalu bisa melihat hal positif dari apa yang gue alami.

Kebahagiaan-kebagiaan kecil yang bisa muncul dari sprei yang baru diganti, pitching ke klien yang berhasil disetujui, hingga gerakan kecil dari kaki kiri yang sempat mati.

Iya, sederhana, kan?

Tapi setelah dikuliti lebih dalam, ternyata semua hal itu memiliki sebuah kesamaan. Ada benang merah yang menjadi penyambung hal-hal tadi, yakni: progress.

Progress makes me happy.

Progress membuktikan kalau gue masih bisa berpikir, bernapas, dan bergerak maju. Menjadi bukti kalau gue tidak pasrah dengan kehidupan.

Karena, hanya ikan mati yang bergerak mengikuti arus. … Lanjut ta..

Day 1: Describe Your Personality.

Banyak orang bilang kalau gue anaknya ambisius. Padahal nggak. Gue cuma berusaha nggak menjadi rata-rata. Karena gue berpendapat bahwa hal paling berbahaya di dunia ini adalah menjadi seorang medioker.

Let me explain.

Gue percaya untuk sukses dalam hidup sebenarnya kita nggak perlu menjadi yang terbaik. You don’t have to be the best but make goddamn sure you are above average.

Ketidakinginan untuk menjadi sekadar rata-rata inilah yang membuat gue terus bergerak, dan terus memantaskan diri.

Prinsip bahwa manusia itu diciptakan berpasang-pasangan menurut gue lebih dari sekadar pria dan wanita. Gue percaya orang-orang yang berada di atas rata-rata, akan juga menemukan orang-orang di frekuensi yang sama.

They will find each other.

So, don’t be average!