Namanya Gery

Friza Giffari Djufri. Tapi di rumah kami memanggilnya Gery.

Dia adik lelaki gue, yang dulu sering gue paksa untuk mijitin kepala gue waktu dia masih kecil. Sebagai imbalan karena gue sudah menjemputnya dari mengaji.

Karakter Gery jauh berbeda dengan karakter semua laki-laki lain yang ada di rumah gue, kayak nggak ada mirip-miripnya gitu.

Nggak seperti Bokap yang keras khas lelaki Sumatera, Gery adalah lelaki yang sikapnya paling halus di rumah.

I honestly can’t tell you if I ever seen him angry. Pissed off about something? Maybe. But mad about something? Never.

Itu lah sebabnya dia disukai semua keponakan kami, anak-anak kecil suka banget nempel ama Gery. Not me, but him.

“Om Gery om yang paling baik” kata keponakan gue sekali waktu.

Dia bukan pula orang yang gila olahraga seperti gue. Jangan coba-coba ajak ngobrol tentang sepakbola… Lanjut ta.. | 14 Comments