Day 5: My Parents

Gue adalah anak broken home. Ayah dan Bunda memutuskan untuk bercerai waktu gue masih kecil sekali. Mungkin waktu itu umur gue dua tahun. Gue juga nggak pernah ingat dengan pasti.

Jadi, gue nggak pernah merasakan sebuah keluarga yang utuh.

Masing-masing dari mereka sudah menikah lagi. Dan masing-masing punya tiga anak. In total, gue punya 6 adik.

Gue nggak pernah tau pasti apa alasan mereka bercerai dulu.

Belakangan, karena penasaran, gue sering bertanya ke Ayah atau Bunda alasan masing-masing mereka untuk bercerai pada waktu itu.

Tapi masing-masing datang dengan jawabannya sendiri-sendiri. Nggak pernah ada satu jawaban yang bulat.

Selalu ada cerita yang berseberangan dari cerita-cerita mereka waktu itu. Belum lagi bumbu-bumbu cerita dari saudara-saudara yang dulu menjadi saksi berjalannya pernikahan mereka. Semua berdiri sendiri tanpa saling melengkapi.

Pada akhirnya gue menyerah.

Gue nggak pernah cukup ngotot… Lanjut ta.. | 3 Comments

Day 4: Places I Want To Visit.

Mekah dan Madinah.

Wait, let me explain.

Gue bukanlah orang yang religius dan jawaban di atas bukan jawaban yang gue buat biar gue terdengar alim dan suci. Tapi gue beneran pengen ke Mekah dan Madinah.

Alasannya sederhana, gue udah pergi ke belasan negara selama ini. Tapi gue belum pernah sekali pun menginjakkan kaki ke Arab Saudi.

Gue bahkan udah pernah ke Vatikan, di Roma.

St. Peter’s Basilica in the background.

Dan waktu gue sakit beberapa tahun yang lalu, bokap gue bahkan pernah menyeletuk:

“Nanti kalau sembuh, umroh ya! Masa ke tempat agama orang udah pernah pergi, agama sendiri belum?!”

So, there you go!

Day 3: A Memory

It was raining.

Gue nggak tau ini udah hari ke berapa di sini. Gue sudah berhenti menghitung sejak divonis GBS beberapa minggu yang lalu. Yang gue sadari cuma percikan air hujan yang mulai menampar jendela kamar gue di lantai 16 di Rumah Sakit ini.

Tidak ada orang lain hari ini, hanya gue sendiri di kamar tanpa penunggu. Keluarga gue sudah pulang ke Aceh beberapa hari yang lalu.

Gue nggak bisa memaksa mereka untuk tinggal lebih lama. Masing-masing punya kehidupan dan tugas yang harus dijalankan. Akan sangat egois kalau meminta mereka meninggalkan itu semua hanya untuk menjaga gue.

Toh, ada suster dan dokter yang siaga menjaga gue setiap hari. Tapi nggak bisa bohong, ada rasa sepi yang harus dijalani setiap hari.

Bangun, sarapan, mandi (lebih tepatnya badan gue dilap oleh suster), latihan fisioterapi, lalu diam… Lanjut ta..

Day 2: Things that makes you happy

Setelah dipikir-pikir, ada banyak hal yang bisa bikin gue bahagia. Gue sepertinya bisa menemukan kebahagiaan di hal-hal yang sederhana. Kehidupan gue selama tiga dekade ke belakang, sepertinya mengajarkan untuk selalu bisa melihat hal positif dari apa yang gue alami.

Kebahagiaan-kebagiaan kecil yang bisa muncul dari sprei yang baru diganti, pitching ke klien yang berhasil disetujui, hingga gerakan kecil dari kaki kiri yang sempat mati.

Iya, sederhana, kan?

Tapi setelah dikuliti lebih dalam, ternyata semua hal itu memiliki sebuah kesamaan. Ada benang merah yang menjadi penyambung hal-hal tadi, yakni: progress.

Progress makes me happy.

Progress membuktikan kalau gue masih bisa berpikir, bernapas, dan bergerak maju. Menjadi bukti kalau gue tidak pasrah dengan kehidupan.

Karena, hanya ikan mati yang bergerak mengikuti arus. … Lanjut ta..

Day 1: Describe Your Personality.

Banyak orang bilang kalau gue anaknya ambisius. Padahal nggak. Gue cuma berusaha nggak menjadi rata-rata. Karena gue berpendapat bahwa hal paling berbahaya di dunia ini adalah menjadi seorang medioker.

Let me explain.

Gue percaya untuk sukses dalam hidup sebenarnya kita nggak perlu menjadi yang terbaik. You don’t have to be the best but make goddamn sure you are above average.

Ketidakinginan untuk menjadi sekadar rata-rata inilah yang membuat gue terus bergerak, dan terus memantaskan diri.

Prinsip bahwa manusia itu diciptakan berpasang-pasangan menurut gue lebih dari sekadar pria dan wanita. Gue percaya orang-orang yang berada di atas rata-rata, akan juga menemukan orang-orang di frekuensi yang sama.

They will find each other.

So, don’t be average!

Curling

Kalian tau nggak olahraga Curling?

Gue juga nggak tau terlalu banyak mengenai olahraga ini. Yang gue tau, olahraga ini merupakan olahraga yang biasanya dimainkan di Olimpiade musim dingin. Menjadi hal yang logis, mengingat lantai dari lapangan yang digunakan (atau lazim disebut curling sheet) terbuat dari es.

Setau gue, Curling dimainkan oleh beberapa orang.

Satu bertindak sebagai orang yang memegang bola yang sebenarnya berupa batu berat yang sudah dipoles, seperti pitcher di baseball, dan beberapa orang lainnya memegang semacam gagang pel yang bertujuan untuk menggosok lantainya begitu bolanya dilepaskan oleh pitcher dari ujung lapangan.

Tujuannya sederhana, untuk mengurangi gesekan atau friksi antara batu tersebut dengan lantai. Sehingga bola yang dilepaskan pitcher tadi bisa bergulir mulus menuju target. Tanpa suara, tanpa gesekan.

Dan sepertinya, siapa yang bisa melepaskan bola paling dekat dengan target, atau dengan posisi yang… Lanjut ta..

Namanya Gery

Friza Giffari Djufri. Tapi di rumah kami memanggilnya Gery.

Dia adik lelaki gue, yang dulu sering gue paksa untuk mijitin kepala gue waktu dia masih kecil. Sebagai imbalan karena gue sudah menjemputnya dari mengaji.

Karakter Gery jauh berbeda dengan karakter semua laki-laki lain yang ada di rumah gue, kayak nggak ada mirip-miripnya gitu.

Nggak seperti Bokap yang keras khas lelaki Sumatera, Gery adalah lelaki yang sikapnya paling halus di rumah.

I honestly can’t tell you if I ever seen him angry. Pissed off about something? Maybe. But mad about something? Never.

Itu lah sebabnya dia disukai semua keponakan kami, anak-anak kecil suka banget nempel ama Gery. Not me, but him.

“Om Gery om yang paling baik” kata keponakan gue sekali waktu.

Dia bukan pula orang yang gila olahraga seperti gue. Jangan coba-coba ajak ngobrol tentang sepakbola… Lanjut ta.. | 14 Comments

Tiga Puluh Dua

Penulis apa yang meng-update blognya setahun sekali? Hanya untuk sebuah postingan ulang tahun?

Ya, gue.

Gue harus meminta maaf kepada kalian yang masih suka membaca tulisan gue di blog ini (jika masih ada) atas jarang munculnya sebuah tulisan di sini.

Kesibukan gue dengan kehidupan dan Big Alpha membuat blog ini menjadi terlantar. Ya ini pembelaan gue aja sih. Hehe.

Lagi pula, siapa sih yang masih membaca blog. Gue kepikiran malah untuk pindah platform menjadi media yang berbasis video. Gimana kalau romeogadungan pindah ke vlog?

Anyway, a bit update with my life, sekarang gue sudah menjadi seorang pengusaha penuh waktu. Awal tahun 2020 ini, gue mengambil sebuah keputusan yang bisa dibilang agak nekad untuk meninggalkan pekerjaan gue di BP.

Trust me, proses pengambilan keputusan ini tidak mudah. Gue sudah mempertimbangkan dengan segala kemungkinan, berdiskusi dengan beberapa… Lanjut ta.. | 6 Comments

Tiga Puluh Satu

Well, shit.

Gue udah berumur tiga puluh satu.

Agak aneh rasanya untuk menulis postingan ulang tahun di sini mengingat frekuensi gue menulis di blog ini sudah sangat berkurang jauh.

Postingan ulang tahun yang terakhir saja hanya berjarak sekitar 5 tulisan dari tulisan ini. Artinya, dalam satu tahun terakhir gue hanya menulis artikel dibawah sepuluh.

Blogger macam apa gue ini?!

But anyway, let me update you guys with my life.

Sejak gue didiagnosa GBS, di umur gue yang ke 28, hidup gue sedikit banyak berubah. Tapi gue gak bisa bilang kalau hidup gue menjadi lebih buruk.

It changed, but it was not getting worse.

Hidup gue sekarang menjadi berbeda.

Mungkin hidup gue nggak semudah dulu dan mobilitas gue nggak selincah dulu, dimana gue bisa traveling ke mana saja tanpa hambatan. Tiga tahun terakhir, gue lebih banyak ‘diam’.

Diam secara… Lanjut ta.. | 4 Comments

Memilih Presiden

Well, masa kampanye sudah hampir berakhir, dan seperti lima tahun yang lalu gue kepengen nulis tentang pilihan politik gue tahun ini. (Baca di sini untuk tulisan gue lima tahun yang lalu).

Dengan kandidat yang sama seperti lima tahun
yang lalu, sekarang pertanyaannya gue akan memilih siapa?

Dan sekali lagi, jawaban gue tetap sama: gue
akan kembali memilih Jokowi.

Segitu fanatiknya ya, Ta ama Jokowi?

Nggak, gue juga nggak puas-puas banget ama pemerintahan periode pertama Jokowi. But let me explain:

Lima tahun pertama Jokowi itu harus diakui nggak bagus-bagus banget. Pertumbuhan ekonomi nggak sesuai target, gesekan antar golongan makin terasa, kasus HAM nggak terselesaikan. Dengan rapor lima tahun pertamanya, Jokowi layak banget untuk diganti.

Tetapi bukan oleh Prabowo.

Kita sama-sama tau kalau Prabowo nggak punya pengalaman memimpin pemerintahan. Jangankan jadi presiden, jadi walikota saja belum pernah.

Dengan kondisi demikian… Lanjut ta.. | 4 Comments