Persistent

Beberapa hari yang lalu, gue mendapatkan sebuah pertanyaan di tab question ask.fm gue.

“Kak, ajarin aku tentang saham dong yang simple. Udah baca di internet tapi nggak ngerti.”

Gue hanya bisa menghela napas setiap kali menerima pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Udah? Gitu aja ya? Sekali baca, nggak ngerti langsung minta orang lain buat ngejelasin secara mudah.

Gue tau kalau mayoritas pembaca blog gue ini dan followers di social media gue umurnya di bawah gue. So, let me tell you something.

Gue bukan bermaksud bersikap sombong atau riya, tapi gue mencoba untuk memberikan satu sundut pandang yang berbeda dalam meraih sebuah cita-cita. Yang berasal dari pengalaman pribadi yang gue punya.

Kalau ada satu hal yang gue percaya di dunia ini selalu terbukti benar, itu adalah kerja keras… Lanjut ta.. | 3 Comments

Buku Romeo Gadungan : Update

Sudah hampir tiga bulan sejak buku gue yang paling baru (Romeo Gadungan) terbit. Berbagai kritik, komen, pujian dan review sudah gue terima.

Dan senang rasanya, buah pikiran, pengalaman dan imajinasi gue berhasil disukai oleh orang lain. Hingga detik ini, mengetahui bahwa ada orang-orang yang rela mengeluarkan uang untuk membeli karya kita, adalah salah satu perasaan paling menyenangkan buat gue.

Oleh karena itu, gue mendedikasikan postingan ini untuk orang-orang yang sudah membeli dan membaca buku gue.

Dan buat yang belum baca, review nya sudah ada di Goodreads. Sekarang buku gue sudah tersedia di seluruh Indonesia dengan data sebar sebagai berikut.

Dan untuk yang ingin membeli on-line, bisa di toko buku-toko buku online di postingan yang ini. Dan untuk yang sedang berada di luar… Lanjut ta..

Nyetrum

“Yah, apa yang bikin ayah pengen menikah dulu ama bunda?”

Gue langsung menanyakan hal itu kepada ayah, ketika dia masuk ke kamar gue. Random memang. Tapi gue punya alasan tersendiri.

Sejak gue sakit, kami memang memiliki banyak waktu untuk mengobrol daripada saat gue sehat. Jarak dan kesibukan yang memisahkan sering membuat kami jarang memiliki ‘father and son conversation’.

Kalau dipikir-pikir, mungkin ini salah satu hal positif dari penyakit gue kali ini. Gue menjadi punya banyak waktu untuk menanyakan hal-hal yang selama ini nggak pernah gue tanyakan tapi sebenarnya gue penasaran.

Jujur aja deh.

Kapan terakhir kali kita benar-benar mengobrol dengan orang tua kita? Sekadar memberikan perhatian kepada mereka. Menanyakan kesehatan mereka. Atau membahas hal-hal yang sebenarnya pengen kita tanyakan tapi nggak pernah sempat karena kita… Lanjut ta.. | 2 Comments

Ikhlas saja..

Seperti yang sudah pernah gue tulis sebelumnya, efek paling mengganggu dari penyakit GBS ini adalah sisi emosionalnya.

Proses terjadinya penyakit ini yang begitu cepat berbanding terbalik dengan proses penyembuhan yang sangat memakan waktu.

Gue juga mengalami fase-fase ini. Ada kalanya gue akan merasa sangat emosional, sedih, dan stress karena kepikiran penyakit. Muncul kekhawatiran kalau gue nggak akan sembuh dan akan menghabiskan sisa hidup gue seperti ini.

Fase-fase ini dipenuhi ketakutan, dan sangat sulit bagi gue untuk berpikir positif jika sedang dalam situasi seperti itu.

Kadang, gue menceritakan hal ini kepada ayah gue.

“Yah, gimana ya? Abang bisa sembuh, nggak?”

“Ya bisa lah. Pasti bisa, sekarang abang ikhlas aja. Allah nggak ngasih cobaan di luar kekuatan hamba-Nya. Ikhlas aja” ayah gue mengulang kalimatnya.… Lanjut ta.. | 17 Comments

Rinjani – Selangkah demi selangkah

Beberapa minggu sebelum sakit, gue sempet naik Gunung Rinjani. Buat gue, ini adalah pengalaman pertama naik gunung di Indonesia. Sebelumnya gue nggak pernah mendaki gunung apapun.

Jadi pengalaman gue dalam hal ini benar-benar minimal.

Tapi seperti banyak hal lain yang gue coba cuma berdasarkan niat dan rasa sotoy (lari 10k, bikram yoga, aerobik), maka gue meng-iyakan ajakan teman-teman kantor untuk menaklukkan Rinjani, gunung berapi tertinggi ke dua di Indonesia.

 

Dari Lombok, kita langsung menuju desa Sembalun, salah satu dari dua entry untuk mendaki Rinjani. Beberapa porter yang kami sewa, membawakan hampir semua keperluan logistik yang kami butuhkan. Tenda, makanan, air minum, hingga snack selama pendakian. Para wisatawan pendaki dari Jakarta ini tidak perlu repot memikirkan dan membawa logistik.

Kami… Lanjut ta.. | 20 Comments

PO : Buku Romeo Gadungan

Hello guys,

Seperti yang sudah gue tulis di postingan sebelumnya, buku gue selanjutnya udah bisa dibeli.

Proses pre-order nya mulai dari tanggal 17 Agustus, ampe 31 Agustus 2016. Ada diskon 20% untuk penjualan melalui pre-order ini. Dan setiap bukunya, ada bonus sticker yang gak bakalan ada kalau beli di toko buku fisik kayak Gramedia dkk.

Bukunya sendiri baru akan masuk Gramedia dkk di awal bulan September 2016, dan untuk teman-teman di luar pulau Jawa ada tambahan 1-2 minggu untuk proses distribusi.

Jadi, mendingan beli via PO ini. Lebih cepat dan lebih murah.

Caranya gimana?

Penjualan PO akan dilayani melalui beberapa toko buku online seperti berikut.

Bukabuku.com

Bukubukularis.com

Bukukita.com

Republikfiksi.com

Bukuplus.com

Buku Romeo Gadungan

Iya, setelah sekitar setahun yang lalu gue menerbitkan buku Newbie Gadungan. Kali ini buku gue selanjutnya sudah siap untuk masuk ke toko buku.

Judulnya Romeo Gadungan.

Screen Shot 2016-07-28 at 9.50.47 AM

 

Iya, buku gue kembali akan diterbitkan oleh Gagas Media, salah satu penerbit terbesar di Indonesia.

Setelah Newbie Gadungan terbit, salah satu kritik yang gue terima untuk buku itu adalah bukunya yang terlalu komedi. Itu nggak sesuai dengan persona gue yang katanya serius.

Nggak ngerti juga kenapa mereka bilang begitu.

Nah untuk menjawab kritikan itu, gue menulis Romeo Gadungan. Bisa dibilang, buku ini adalah buku napas dan gaya penulisannya ‘gue banget’.

Itu bisa keliatan dari judulnya yang sama seperti username social

Lotere

Seumur hidup gue, gue nggak pernah dapat yang namanya lotere, undian, kuis atau doorprize. Baik itu hadiahnya mobil, motor atau sekadar payung cantik.

Nggak pernah.

Kan sering tuh di pameran-pameran, kita disuruh meletakkan kartu nama trus diundi. Atau di acara outing kantor, lalu dipilih nomor secara acak buat dapetin hadiah.

Gue nggak pernah dapat begituan. Ntah karena sial atau tangan gue bau aja untuk urusan begituan. Kenapa gue cerita ini sebagai awal? Well, keep reading.

Kembali ke cerita penyakit gue.

Jika semua lancar dan tidak ada masalah, hari ini adalah hari terakhir gue di rumah sakit. Iya, setelah dua bulan bersarang di rumah sakit akibat GBS ini, besok gue sudah bisa keluar dan melanjutkan pengobatan rawat jalan.

Untuk yang penasaran kondisi gue seperti apa, gue sekarang… Lanjut ta.. | 29 Comments

Gue sakit GBS..

Pertengahan tahun 2016, sepertinya hidup gue memasuki hard mode. Mungkin untuk beberapa yang udah tau, gue lagi sakit.

Sakit yang sedikit nggak lazim, dan mungkin belum pernah kalian dengar.

Awal Juni 2016 (menjelang keberangkatan gue untuk wisuda ke Aberdeen), gue divonis mengidap Guillain Barre Syndrome (yang dari sini akan gue singkat menjadi GBS). Sebuah penyakit langka yang menyerang system saraf tepi. Rasio penderitanya diperkirakan 1:100.000 orang.

GBS ini sering juga disebut lumpuh layu oleh orang-orang awam.

Personally, I called this disease is “when your body finally hates yourself”.

Momen di mana dia mogok bekerja setelah 28 tahun dan berhenti mendengarkan perintah otak gue.

Penyebabnya apa, Ta?

Sampai detik ini, belum ada yang tau jelas apa penyebab GBS. Dimulai dari dipicu sesuatu (alien)… Lanjut ta.. | 95 Comments

AADC 2 – Sebuah Review

Gue harus buru-buru menonton film ini karena beberapa alasan.

  1. Film ini punya sejarah yang panjang.
  2. Spoiler yang udah bertebaran di social media.
  3. Dian Sastrowardoyo. Hahaha.

Sejak kemunculan mini serie AADC (yang sekaligus iklan Line) di Youtube tahun 2014 lalu, kayaknya film ini udah menjadi tontonan wajib untuk semua remaja SMA medio 2000an.

Awalnya gue sempet menyuarakan ketidaksukaan gue dengan munculnya sekuel film ini di twitter. Bukan apa-apa, AADC pertama menurut gue sudah pas.

Ending-nya ngasih ruang imajinasi para penontonnya untuk membuat ending mereka masing-masing. Belum lagi dengan adanya iklan LINE tadi, semua itu ngasih jawaban yang pas untuk para penontonnya.

Dan dengan adanya sekuel AADC, ada ekspektasi penonton yang dimainkan. Gimana kalau filmnya jelek? Gimana kalau ending-nya nggak seperti yang kita… Lanjut ta.. | 19 Comments